Perkembangan Sosioemosional diri, perkembangan moral

 MAKALAH

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

‘’Perkembangan Sosio Emosional, Penilaian Diri, Perkembangan Moral’’

Dosen pengampu: Ridwan, S.Psi., M.Psi., Psikolog

PRODI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI

TAHUN 2022/2023

Aminatu Zulfa

: 209220026

Milyandreana

: 209220020

Rahma Nur Fatmawati : 209220031

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadiran Allah SWT, karena kuasa dan kasihnya kepada kami,

akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah tentang ‘’Perkembangan Sosio

Emosional, Penilaian Diri, Perkembangan Moral’’ dalam materi mata kuliah Psikologi

pendidikan. Makalah ini kami buat dalam rangka memenuhi tugas kelompok yang di berikan

oleh Bapak Ridwan, S.Psi., M.Psi., Psikolog , makalah ini disusun agar dapat memberi

referensi tambahan materi pembelajaran. Sehingga bermanfaat untuk kami dalam penyusunan

makalah ini tentu saja tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, kami mohon maaf atas

segala kekurangannya. Terimakasih kami ucapkan kepada dosen mata kuliah Psikologi

Pendidikan yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah

ini bermanfaat bagi kita semua.

07- Desember 2022

 ………………..

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................... 2

DAFTAR ISI ................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................. 4

B. Rumusan Masalah......................................................................................... 5

C. Tujuan dari materi…………………………………………………………… 5

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Perkembangan Sosioemosional………………………………… 6

2. Tahap Tahap Perkembangan Sosioemosional …………………………….... 6

3 . Penilaian Diri (self assessment)………………………………………………11

4. Perkembangan Moral …………………………………………………………14

5. perkembangan sosioemosional pada Anak …………………………………..16

BAB III PENUTUP

 KESIMPULAN ….……………………………………………………………….. 18

 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….. 19

3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan Sosial adalah proses kemampuan belajar dan tingkah laku yang

berhubungan dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari kelompoknya.Di dalam

perkembangan sosial, anak dituntut untuk memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan

sosial di mana mereka berada. Tuntutan sosial yang dimaksud adalah anak dapat bersosialisasi

dengan baik sesuai dengan tahap perkembangan dan usahanya , dan cenderung menjadi anak

yang mudah bergaul.

Perilaku sosial merupakan aktivitas yang berhubungan dengan orang lain , baik dengan

teman sebaya , guru , orang tua maupun saudara – saudaranya. Saat berhubungan dengan orang

lain terjadi peristiwa yang sangat bermakna pada kehidupan anak yang dapat membentuk

kepribadiannya dan membantu perkembangannya menjadi manusia yang sempurna.

Perilaku yang ditunjukan oleh seorang anak dalam lingkungan sosialnya sangat

dipengaruhi oleh kondisi emosinya. Perkembangan emosi seorang anak sangat dipengaruhioleh

kondisi lingkungannya. Emosi merupakan suatu gejolak penyesuaian diri yang berasal dari

dalam dan melibatkan hampir keseluruhan diri individu.emosi juga berfungsi sebagai

pemuasan atau perlindungan atau kesejahteraan pribadi pada saat berhadapan dengan objek

dan lingkungan sekitar.

Tidak setiap anak berhasil melewati perkembangan sosioemosional dengan baik.

Sebagai pendidikan sepatutnya untuk memahami perkembangan sosioemosional anak sebagai

bekal dalam memberikan bimbingan terhadap anak agar mereka dapat mengembangkan

kemampuan sosial dan emosinya dengan baik.

Untuk maksud tersebut diatas , dalam makalah ini akan dibahas tentang:

pengertian dari perkembangan sosio-emosional ,tahap tahap perkembangan sosioemosional ,faktor yang mempengaruhi perkembangan sosio-emosional,

perkembangan moral yang terjadi pada masa remaja cara yang dilakukan untuk mendorong

perkembangan sosio-emosional

B. Rumusan Masalah

1.Apa pengertian dari perkembangan sosio-emosional ?

2.Bagaimana tahap-tahap perkembangan sosio-emosional ?

3.Faktor apa sajakah yang mempengaruhi perkembangan sosio-emosional?

4.Bagaimana perkembangan moral yang terjadi pada masa remaja ?

5.Apa saja cara yang dilakukan untuk mendorong perkembangan sosio-emosional?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari sosio- emosional .

2. Untuk mengetahui tahapan perkembangan sosio-emosional.

3. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perkembangan sosio- emosional.

4. Untuk mengetahui perkembangan moral yang terjadi pada usia remaja.

5. Untuk mengetahui cara mendorong perkembangan sosio-emosional.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Perkembangan Sosioemosional


Sosio-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial adalah

pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial. Dapat juga diartikan

sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi

dan moral agama. Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi

tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan

menjadi dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan

senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi

individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar.

Emosi negatif seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, individu

tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia

akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Selain itu, dari segi etimologi, emosi

berasal dari akar kata bahasa Latin ‘movere’ yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’.

Kemudian ditambah dengan awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’.

Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak

dalam emosi.

2.Tahap Tahap Perkembangan Sosioemosional

A. Perkembangan Sosioemosional Masa Kanak-Kanak

Selama masa ini anak-anak dalam proses sosioemosional yang anak-anak

semakin belajar mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan

ketrampilan kesiapan bersekolah, dan meluangkan waktu bermain dengan temanteman sebayanya. Perubahan yang pertama dalam proses sosiemosional adalah

perubahan pada relasi anak dengan orang lain.

1) Relasi dengan keluarga

Kasih sayang merupakan suatu aspek penting dari relasi keluarga selama masa

anak-anak. Kasih sayang keluarga selama ini merupakan ramuan kunci dalam

perkembangan sosial anak, dan meningkatkan kemungkinan anak akan

berkompeten secara sosial dan menyesuaikan diri dengan baik pada tahun-tahun

prasekolah dan sesudahnya.

6

2). Relasi saudara sekandung dan urutan kelahiran

Menunjukkan bahwa anak-anak berinteraksi lebih positif dan lebih bervariasi

dengan orang tuanya dari pada dengan saudara kandungnya. Anak-anak juga lebih

mematuhi perintah orang tuanya dari pada saudara kandungnya. Dalam banyak hal

pengaruh saudara kandung dalam proses sosialisasi dapat lebih kuat dibandingkan

orang tua. Tuntutan orang tua dan standar tinggi yang ditetapkan bagi anak-anak

yang lahir duluan mengakibatkan anak-anak memilki karir akademik dan

professional yang memuaskan.

3). Relasi teman sebaya

Teman sabaya adalah anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya kurang

lebih sama. Salah satu fungsi kelompok teman sebaya yang plaing penting yaitu

menyediakan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia diluar keluarga.

Pada masa awal anak-anak, anak-anak biasanya keluar dan memasuki dunia ini,

mereka bertemu dengan teman-teman baru, menghabiskan waktu dalam berbagai

macam lingkungan dan belajar banyak hal baru yang menarik. Dalam menjalin

relasi anak-anak semakin tertarik pada anak lain. Mereka berkomunkasi dengan

jelas, belajar berbagi dan memahami perasaan, keinginan atau kemauan orang lain.

Oleh Karena itu, persahabatan merupakan landasan yang subur untuk

perkembangan relasi anak pada masa ini.

Selain itu, anak-anak juga mulai mengembangkan ketertarikan pada permainan

simbolik dan permainan berpura-pura. Permainan berpura-pura dapat

memfasilitasi perkembangan emosi anak karena ketika bermain pura-pura, mereka

dapat mengekspresikan atau memunculkan emosi yang berkaitan dengan

permasalahan yang sensitive yang mereka pendiam.

Perubahan dalam proses sosioemosional yang kedua adalah perubahan pada

emosi anak. Dunia anak-anak dipenuhi dengan emosi dan pengalaman emosional.

Emosi adalah bahasa pertama yang digunakan oleh anak untuk berkomunikasi

dengan orang tuanya sebelum anak dapat berbicara dengan baik. Berkaitan dengan

emosi, anak-anak yagn ada dalam masa awal anak-anak mulai memiliki bermacammacam ketakutan atau kecemasan. Ketakutan atau kecemasan yang dimiliki anakanak ini juga cenderung memuncak.

Contohnya adalah rasa takut ditinggalkan, rasa tahu terhadap mimpi buruk,

atau rasa takut pada gelap dsb.

7

Perubahan yang ketiga dalam proses sosioemosional adalah perubahan pada

kepribadian anak. Menurut Erikson, tahap ini disebut tahap inisiatif versus rasa

bersalah. Perkembangan anak pada tahap ini adalah belajar memiliki inisiatif atau

ide tanpa terlalu banyak melakukan kesalahan.

Inisiatif atau ide berarti tanggapan positif terhadpa tangtantangan dunia luar,

tanggung jawab, pelajaran tentang kemampuan-kemampuan baru, dan awal anak

memiliki tujuan. Pada tahap ini, anak juga mulai memiliki kemampuan untuk

membayangkan. Hal ini berarti anak perlu didorong untuk berimajinasi,

memunculkan rasa ingin tahu dan ide-ide, serta mewujudkan ide-ide tersebut.

Anak-anak yang mampu membayangkan apa yang akan terjadi, mampu membuat

rencana, juga harus memiliki rasa tanggung jawab dan rasa sesal jika melakukan

kesalahan.

a. Perkembangan Sosioemosional Masa Remaja

Remaja awal berumur mulai 12/13-17 tahun, dan remaja akhir berumur 17-21

tahun. Umumnya para remaja terjadi ‘sturm und drang’. Artinya suatu masa dimana

terdapat ketegangan emosi yang dipertinggi yang disebabkan oleh perubahanperubahan dalam keadaan fisik dan bekerjanya kelenjar-kelenjar yang terjadi pada

waktu ini. Sebab lain adalah hubungan sosial, hubungan anak dengan orang lain

atau masyarakat pada masa ini tentunya mengharapkan reaksi yang lain daripada

dia masih kanak-kanak. Bertambahnya ketegangan-ketegangan emosional itu

disebabkan karena anak-anak remaja harus membuat penyesuaian-penyesuaian

terhadap harapan-harapan masyarakat yang baru dan berlainan dari dirinya. Akan

tetapi perlu kita ingat bahwa tidak semua remaja mengalami strum und drang.

Namun pada umumnya demikianlah yang terjadi pada remaja.

Selama masa remaja, seperti halnya sepanjang kehidupan kita kondisi-kondisi

yang membangkitkan emosi sangat berbeda-beda. Emosi terlibat di dalam segala

hal, di mana remaja terlibat di dalamnya. Di antara lingkungan-lingkungan yang

sangat penting dalam membangkitkan emosi para remaja adalah semua hal yang

bertentangan dengan diri remaja, atau hal-hal yang membangkitkan perasaan waswas mengenai dirinya. Sehingga pengalaman emosional remaja biasanya

mengandung:

a. Perasaan, misalnya rasa cinta, sedih, khawatir.

8

b. Impulse atau dorongan, misalnya dorongan untuk melakukan sesuatu.

c. Persepsi, atau pengamatan tentang apa yang membangkitkan emosi.

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi

yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi

perkembangan emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan baru yang

dialami ssebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan

lebih intim dengan lawan jenis. Pada usia remaja awal, perkembangan emosinya

menunjukkan sifat yang sensitive dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai

situasi atau sosial, emosinya bersifat negative dan temperamental. Sedangkan pada

remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.

Meskipun begitu, remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya dengan cara

gerakan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau

berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang-orang yang menyebabkan

amarah. Untuk itu, mencapai kematangan emosional merupakan tugas

perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaian sangat dipengaruhi

oleh kondisi sosioemosinal lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan

kelompok sebaya. Jika lingkungan itu cukup kondusif, maka remaja cenderung

dapat mencapai kematangan emosionalnya. Sebaliknya, jika remaja kurang

dipersiapkan untuk memahami peran-perannya dan kurang mendapat perhatian dan

kasih sayang orang tua atau pengakuan dari teman sebaya, mereka cenderung akan

mengalami kecemasan, perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional.

Remaja laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi,

bila pada akhir remaj tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, melainkan

menunggu saat dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan

cara-cara yang dapat diterima. Petunjuk kematangan emosi yang lain adalah bahwa

individu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara

emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berfikir sebelumnya seperti anak-anak atau

seperti orang yang tidak matang.

Untuk encapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran

tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun

caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan 

orang lain. Hal ini dipengaruhi oleh pola hubungan sosial antara remaja dengan

lingkungan sosialnya tersebut

3.Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosioemosional

Hurlock (1993) mengungkapkan hal-hal yang dapat mempengaruhi

perkembangan sosio anak antara lain :

1) Kondisi Fisik

Apabila keseimbangan tubuh terganggu karena kelelahan atau kesehatan yang

buruk atau perubahan yang berasal dari perkembangan maka mereka akan

mengalami emosi yang meninggi. Kondisi-kondisi fisik yang mengganggu antara

lain :

a. Kesehatan yang buruk, di sebabkan karena gizi yang buruk, gangguan

pencernaan atau penyakit. Masih menurut hurlock kondisi kesehatan yang buruk pada

seseorang akan membuat dirinya menjadi terbatas di banding dengan orang yang sehat,

taapalagi jika kondisi tersebut berlangsung lama.

b. Kondisi yang merangsang, seperti pengakit kulit termasuk rasa gatal apabila ada

pada bagian tubuh yang terbuka bisa mengakibatkan seorang merasa minder dan

menutup diri. Gatal yang tak henti akan mengakibatkan kejengkelan pada individu dan

dapat menimbulkan emosi yang tak terkontrol, terutama pada saat ingin mengahiri rasa

sakitnya.

c.

Gangguan kronis, seperti asma atau penyakit kencing manis. Penyakit kronis

kerap membuat seorang putus asa.

e.

Perubahan kelenjar, terutama pada saat masa puber.

b. Kondisi Psikologi

Kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi emosi antara lain :

1. Perlengkapan intelektual yang buruk, anak yang memiliki tingkat intelektual

rendah rata-rata mempunyai pengendalian emosi yang kurang di bandingkan dengan

anak yang pandai pada tingkat umur yang sama.

2. Kegagalan dalam mencapai tingkatan aspirasi. Kegagalan berulang-ulang dapat

mengakibatkan timbulnya keadaan cemas, sedikit atau banyak.

3. Kecemasan setelah pengamalan emosi tertentu yang sangat kuat. Sebagai contoh

akibat lanjutan dari pengalaman menakutkan akan mengakibatkan anak merasa takut

kepada setiap situasi yang mengancam.

c. Kondisi lingkungan

Ketegangan yang terus menerus, jadwal yang ketat dan terlalu banyak

pengalaman yang menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan akan

berpengaruh pada emosi anak. Berikut penjelasanya.

a) Ketegangan yang disebabkan oleh pertengkaran dan penyelisihan yang terus

menerus. Pertengkaran atau perselisihan dalam konteks hubungan sosial sebenarnya

wajar akan tetapi jika konflik tersebut berlangsung secara terus menerus akan

menimbulkan emosi dan akibatnya rusaknya hubungan sosial yang wajar.

b) Ketegangan yang disebabkan serta disiplin yang otoriter. Disiplin itu baik tetapi jika

dipaksakan akan menimbulkan dampak buruk bagi pihak yang dikenalnya. Lamakelamaan bisa menimbulkan pemberontakan serta keinginan untuk keluar dari tata norma

yang ada tersebut.

c) Sikap orang tua yang selalu mencemaskan atau terlalu melindungi, over protective

bisa mengakibatkan penolakan dari orang yang disayanginya. Seolah-olah rasa sayang

dibalas dengan rasa benci. Karena sesungguhnya sudah menjadi sifat alamiah manusia

d) Suasana otoriter di sekolah. Guru yang terlalu menuntut atau pekerjaan sekolah yang

tidak sesuai dengan kemampuan anak akan menimbulkan kemarahan sehingga pulang ke

rumah dalam keadaan kesal.

3. Penilaian Diri (self assessment)

A. Pengertian Penilaian Diri (self assessment)

 Menurut BPPPN Pusat Kurikulum (Depdiknas, 2010: 40) penilain diri

merupakan suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya

sendiri berkaitan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian kompetensi yang

dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu didasarkan atas kriteria atau acuan yang

telah disiapkan.

Adapun menurut Kunandar (2012: 92) penilaian diri merupakan suatu teknik penilaian

dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan 

dirinya dalam konteks kompetensi sikap, baik sikap spiritual maupun sikap sosial.

Sedangkan menurut Sudaryono ( 2012: 92 ) penilaian diri (self assessment) adalah suatu

teknik penilaian dimana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan

dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata

pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi

kognitif, afektif, dan psikomotor.

1. Penilaian kompetensi kognitif di kelas, misalnya : peserta didik diminta untuk

menilai penguasaan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya sebagai hasil belajar dari

suatu mata pelajaran tertentu. Penilaian diri peserta didik didasarkan atas kriteria atau

acuan yang telah disiapkan.

2. Penilaian kompetensi afektif, misalnya : peserta didik dapat diminta membuat tulisan

yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. Selanjutnya, peserta

didik diminta untuk melakukan penilaian berdasarkan kriteria atau acuan yang telah

disiapkan.

3. Berkaitan dengan penilaian kompetensi psikomotorik, peserta didik dapat diminta

untuk menilai kecakapan atau keterampilan yang telah dikuasainya berdasarkan kriteria

atau acuan yang telah disiapkan.

 Jadi dapat disimpulkan bahwa penilaian diri (self assessment) merupakan suatu

teknik penilaian yang di dalamnya peserta didik mengemukakan kelemahan dan

kelebihannya dalam pencapaian kompetensi baik pada ranah kognitif, ranah afektif,

maupun pada ranah psikomotorik dan pada pene;itian kali ini peserta didik

mengemukakan kelebihan dan kelemahannya tentang karakter peserta didik dan ini

meruoakan kompetensi pada ranah afektif.

2. Macam-macam Penilaian Diri (self assessment)

 Ada beberapa jenis penilaian diri(self assessment), diantaranya:

1. Penilaian Langsung dan Spesifik, yaitu penilaian secara langsung, pada saat

atausetelah selesai melakukan tugas, untuk menilai aspek-aspek kompetensi

tertentudari suatu mata pelajaran.

2. Penilaian Tidak Langsung dan Holistik, yaitu penilaian yang dilakukan dalam kurun

waktu yang panjang untuk memberikan penilaian secara keseluruhan.

3. Penilaian Sosio-Afektif, yaitu penilaian terhadap unsur-unsur afektif atau emosional

(Depdiknas, 2010: 41)

C. Prinsip-Prinsip Dalam Penilaian Diri (self assessment)

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penilaian diri adalah:

1. Aspek-aspek yang mau dinilai oleh peserta didik melalui penilaian diri harus jelas.

2. Menentukan dan menetapkan cara dan prosedur yang digunakan dalam penilaian

diri, misalnya dengan daftar cek atau dengan skala.

3. Menentukan bagaimana mengolah dan menentukan nilai hasil penilaian diri oleh

peserta didik.

4. Membuat kesimpulan hasil penilaian diri yang dilakukan oleh peserta

didik(Kunandar, 2013: 133).

D. Keunggulan dan kelemahan Penilaian Diri (self assessment)

Keunggulan dari penilaian diri (self assessment) adalah:

1) Guru mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.

2) Peserta didik mampu merefleksikan mata pelajaran yang sudah diberikan.

3) Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.

4) Memberikan motivasi diri peserta didik dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.

5) Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

6) Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar mengetahui standar inputpeserta

didik yang akan kita ajar.

7) Peserta didik dapat mengukur kemampuan dalam mengikuti pelajaran, peserta didik

dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.

8) Melatih kemandirian peserta didik.

9) Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.

10) Peserta didik memahami kemampuan dirinya.

11) Guru memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.

12) Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.

13) Peserta didik mampu menilai dirinya.

14) Peserta didik dapat mencari materi sendiri.

15) Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.

Sedangkan kelemahan dari penilaian diri (self assessment) adalah : 

1) Cenderung subjektif.

2) Data mungkin ada yang pengisiannya tidak jujur.

3) Dapat terjadi kemungkinan peserta didik menilai dengan skor tinggi.

4) Membutuhkan persiapan dan alat ukur yang cermat.

5) Pada saat penilaian dapat terjadi peserta didik melaksanakan sebaik-baiknya tetapi

diluar penilaian ada peserta didik yang tidak konsisten.

6) Hasilnya kurang akurat.

7) Kurang terbuka.

8) Mungkin peserta didik tidak memahami adanya kemampuan yang dimiliki. 9)

Peserta didik yang kurang aktif biasanya nilainya kurang (Kunandar, 2013: 130).

4. Perkembangan Moral yang Terjadi pada Masa Kanak Kanak sampai Remaja

A. Perkembangan Moral menurut Kohlberg

Kohlberg mengklasifikasi perkembangan moral atas tiga tingkatan (level), yang

kemudian dibagi lagi menjadi menjadi enam tahap (stage).Semakin tinggi tahap

perkembangan moral seseorang , akan semakin terlihat moralitas yang lebih mantap

dan bertanggung jawab dari perbuatan-perbuatannya. Adapun urutan perkembangan

moral menurut Kohlberg tersebut adalah sebagai berikut :

Pada Tingkat (level) 1 : Moralitas Prakonvensional

Pada tingkat ini anak mengenal moralitas berdasarkan dampak yang

ditimbulkan oleh suatu perbuatan , yaitu menyenangkan (hadiah) atau menyakitkan

(hukuman). Anak tidak melanggar aturan karena takut akan ancaman hukuman dari

otoritas.Dalam Tingkat pertama ini dibagi menjadi dua tahap :

1. Tahap pertama : Tahap ganjaran dan hukuman.

Baik atau buruk bergantung pada konsekuensi-kosekuensi fisik. Tahap ini

didasarkan semata pada sakit atau kesenangan seseorang, dan tidak mempertimbangkan

orang lain.

2. Tahap kedua : Tahap pertukaran. 

Dalam tahap ini, ada pengakuan yang meningkat bahwa orang lain punya

kepentingannya sendiri dan harus dipertimbangkan. kepentingan- kepentingan itu lyang

lain dalam kaitannya dengan pertukaran dan resiprositas : “aku akan mengores

punggungmu jika kau menggores punggungku.” Anak-anak dalam tahap ini sangat

menaruh perhatian dengan apa yang adil, tetapi tidak menaruh perhatian pada keadilan

sesungguhnya.

Pada tingkat (level) 2 : Moralitas Konvensional

Suatu perbuatan dinilai baik oleh anak apabila mematuhi harapan otoritas atau

kelompok sebaya.

3. Tahap ketiga : Tahap anak baik

Anak menyesuaian diri terhadap peraturan dengan tujuan untuk menyenangkan orang

baik. Misalnya : kalau ayah tahu saya telah berbohong, lain kali ayah tidak akan percaya

lagi padaku, karena itu saya tidak akan berbohong.

4. Tahap keempat : Tahap Mepertahankan sistem

Anak menyesuaikan diri karena turut memperhatikan kepentingan orang lain dan bukan

sekedar karena kepentingan kelompok sendiri. Misalnya, saya harus taat kepada hukum

karena hal itu adalah kewajiban saya sebagai warga negara yang baik. Hal itu akan

membuat kehidupan yang lancar dan mudah bagi semua pihak.

Pada Tingkat (level) 3 : Moralitas Pascakonvensional

Pada tingkat ini aturan dan institusi dari masyarakat tidak dipandang sebagai tujuan

akhir, tetapi diperlukan sebagai subjek. Anak menaati aturan untuk menghindari

hukuman . dalam tingkat (level) ini juga dibagi menjadi dua tahap :

5. Tahap kelima : Tahap kontrak sosial

Ada semacam perjanjian antara dirinya dan lingkungan social. Perbuatan dinilai baik

apabila sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

6. Tahap keenam : Tahap prinsip-prinsip universal

Kebenaran ditentukan sesuai dengan prinsip-prinsip etika universal yang bersifat

abstrak dan penghormatan terhadap martabat manusia.

a. Teori Bronfenbrenner

Bronfenbrenner terkenal lantaran kajiannya tentang anak-anak dan sekolahsekolah di berbagai budaya yang berbeda,dan mengelompokan 5 orientasi moral.

1. Moralitas berorientasi diri. Pada dasarnya anak hanya tertarik pada kesenangan diri

dan hanya mempertimbangkan orang lain sebatas mereka bisa membantunya

mendapatkan apa yang di inginkannya atau menghalanginya

2. Moralitas berorientasi. Disini,anak atau orang dewasa pada dasarnya menerima

keputusan figur-figur dari orang tua yakni saat mendefinisikan baik dan buruk

3. Moralitas berorientasi kelompok sebaya. Pada dasarnya moralitas ini adalah sebuah

moralitas konfermitas,di mana benar dan salah ditentukan tidak oleh otoritas

melainkan oleh kelompok sebaya seorang.

4. Moralitas beroriantasi kolektif. Tujuan utama moralitas ini adalah mengesampingkan

kepentingan individual.

5. Moralitas berorientasi objektif. Pada moralitas ini prinsip-prinsip universal yang

bersifat objektif dalam pengertian bahwa prinsip-prinsip itu tidak bergantung pada

tingkah polah individu-individu atau kelompok-kelompok sosial melainkan memiliki

realitasnya sendiri.

5. paya untuk mendorong perkembangan sosioemosional pada Anak

A. Sikap Sosial

Bermain mendorong anak untuk meninggalkan pola berfikir egosentrisnya.

Dalam situasi bermain anak bisa mempertimbangkan sudut pandang teman bermainya

sehingga egosentrisnya bisa sedikit demi sedikit berkurang. Dalam permainan, anak

belajar bekerjasama untuk tujuan bersama. Iapun terdorong untuk belajar berbagi,

bersaing dengan jujur, menang atau kalah dengan sportif, mempertahankan haknya dan

peduli terhadap hak-hak orang lain. Lebih lanjut ia pun akan belajar makna kerja tim

dan semangat tim.

B. Belajar berkomunikasi

Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti

dan dimengerti oleh teman-temanya. Hal ini mendorong anak untuk belajar bagaimana

berkomunikasi dengan baik, bagaimana membentuk hubungan sosial, bagaimana

menghadapi dan memcahkan masalah-masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

C. Belajar mengorganisasi

Saat bermain bersama orang lain, anak juga berkesempatan belajar

berorganisasi. Bagaimana ia harus melakukan pembagian peran diantara mereka yang turut serta dalam permainan tersebut, misalnya siapa yang menjadi guru dan siapa yang

menjadi muridnya.

D. Lebih menghargai perbedaan/perbedaan orang lain

Bermain memungkinkan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan

empatinya. Hal tersebut membantu anak membangun pemahaman yang lebih baik atas

orang lain, lebih toleran, serta mampu berlapang dada terhadap perbedaan-perbedaan

yang dijumpai.

E. Menghargai harmoni dan kompromi

Saat dunianya semakin luas dan kesempatan berinteraksi semakin sering dan

bervariasi maka akan tumbuh kesadaranya akan makna peran sosial, persahabatan,

perlunya menjalin hubungan serta perlunya strategi dan diplomasi dalam berhubungan

dengan orang lain.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pada masa remaja dan kanak kanak , tingkat karakteristik emosional akan

menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja seperti

perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan

dipahami dengan baik. Sebagai calon pendidik dan pendidik kita harus mengetahui

setiap aspek yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku dalam perkembangan

anak, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga kita bisa melakukan

komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi remaja merupakan suatu

titik yang mengarah pada proses dalam mencapai kedewasaan. Meskipun sikap kanakkanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja karena pengaruh didikan orang tua.

Faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan peserta didik pada usia

remaja dan kanak kanak yaitu diantaranya: didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat

tinggal dan perlakuan guru di sekolah.

Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri sendiri yaitu untuk

mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik, serta bisa lebih matang

merencanakan segala hal yang akan diputuskannya, sedangkan terhadap orang lain,

yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling menghargai dan mampu

memposisikan diri di lingkungan dengan baik.

Agar seorang peserta didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik

haruslah dibentuk sejak usia dini, karena pada saat itu amat sangat menentukan

pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini dasar-dasar

kepribadian anak telah terbentuk.

DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Rosda

Yusuf, Syamsu L.N. dan Nani M. Sugandhi. 2011. Perkembangan Peserta Didik.

Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Ali, Mohammad. Mohammad Asrori. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik.

Jakarta: Bumi aksara. 2011

Sjarkawai. Pembentukan Kpribadian Anak , Peran moral, intelektual, emosional, dan

sosial sebagai wujud integritas membangun jati diri,

Yusuf, Syamsu. Nani M sugandhi. Perkembangan peserta didik. Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada 2011

Zuria, Nurul.Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Persfektif Perubahan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ANAK USIA DINI